Dimanamimpiku

jika untuk meraih mimpi sendiri tidak bisa, maka ajaklah orang lain

Ketika aku dan buku ku mulai berbicara


Mungkin tak ada yang menyangka ketika dulu aku adalah penggila komik. Bahkan sampai sekarangpun masih menggilainya (walaupun tak segila dulu). Hampir semua komik terkenal kukoleksi  Dari komik doraemon sampai naruto, dari cerita anak-anak bahkan sampai cerita dewasa (nah lho?? Mulai ngawur yee pikirannya?? Maksudnya cerita yang kontennya gulat2 gitu lah). Dan aku sama sekali tak menyesalinya, bahkan aku dibuat untung olehnya! Wooo.. wooo.. (=p).

Sampai sekarang aku masih ingat awal lembaran aku memulai membaca ( baca : komik). Kira-kira ketika umur 7 tahun kelas 3 SD pas lagi imut-imutnya(=p). Hari itu pertamakalinya dibelikan komik oleh ayahku. Komik itu berjudul “dragonball” yang memang lagi gila-gilanya dengan dia (“dragonball”). Waktu itu aku mengetahuinya melalui Televisi berwarna-warni yang bermandikan semut. Tahu aja ayahku, tapi sayangnya yang dibelikan adalah volume 28-42. Yang tiba-tiba langsung loncat jauh dari serial TV yang kutonton. Tapi aku tidak menyesal, karena dari situlah awal mulanya aku suka membaca. Walapun dulu sedikit ada pertentangan antara ayah dan ibuku mengenai hobiku membaca komik. Namun kemudian akhirnya ibuku memakluminya. Dan sekarang ibu tidak menyesalinya bukan? =p

memang benar bahwa dalam hidup ini, Sesuatu yang dipaksakan sebelum waktunya itu tidak baik. Mungkin memang benar pilihan ayahku yang ketika aku kecil diberikan komik, bayangkan ketika saat itu aku diberikan buku bacaan tentang politik ataupun ekonomi, bisa dibayangkan saat dewasa nanti kepalaku botak dan aku dijauhi ibu-ibu paruh baya gara-gara disangka preman botak yang sering nyruduk ibu-ibu yang make baju merah (ga nyambung)….

Yah, intinya membaca komik itu tidaklah buruk kawan. bahkan sampai sekarang akupun sering mengulang-ngulangnya. Ketika aku kesepian, ketika aku makan, ketika aku sedang dalam keadaan turun berat badan, (eh salah! Turun iman maksudnya) sampai ketika aku sedang mengisi waktu pas buang air besar di wc, komiklah yang dengan setia menemaniku dan memberiku motivasi lebih. Benar juga dengan pepatah yang mengatakan “buku adalah teman yang paling setia”.

Satu hal yang membuatku terkesan adalah kisah jenis komik yang unik dan kadang melucu itu mereflesikan kehidupan sehari-hari. Dari mulai kisah seorang anak yang dari kecil dijahili, namun kemudian setelah besar dia menjadi seorang juara, kisah kocak namun penuh sarat makna, orang pintar dan hebat namun tdak sombong, sampai kisah yang menunjukan kegigihan dalam hidup dan menggapai cita-cita. Dari situlah aku terinspirasi untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi.

Dan satu hal yang terpenting, aku yang dulu hanya membaca komik ini, sekarang telah berbicara dengan banyak buku, tidak hanya komik, tapi juga ekonomi, politik, motivasi, psikologi, dan lain-lain. Itulah proses kawan, seperti pepatah yang mengatakan “sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit”. Dari komik berkembang ke jenis-jenis buku lainnya. Sungguh beruntungnya Aku hidup berbicara dengan buku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: